Perkembangan Islam Masa bani Abasiyah

PERKEMBANGAN ISLAM BANI ABBASIYAH

PASCA MASA KEEMASAN

 

I.            PENDAHULUAN

Khalifah Abbasiyah ialah khalifah islam setelah khalifah Umayyah. Pemerintahan dinasti Abbasiyah dikenal sebagai pemerintahan masa revolusi islam karena keberhasilan dinasti Abbasiyah dalam memajukan peradaban islam.

Nasa daulah bani Abbasiyah disebut-sebut sebagai masa keemasan islam, atau dikenal dengan istilah ” The Golden Age”. Dikarenakan pada masa itu umat islam telah mencapai puncak kejayaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Dan juga berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah dengan banyaknya penerjemah buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Dengan mewarisi imperium besar bani Umayyah. Hal ini memungkinkan daulah bani Abbasiyah dapat mencapai hasil lebih banyak, karena landasan telah dipersiapkan oleh daulah bani Umayyah yang besar.

Namun dengan menyokong imperium besar tersebut, justru sebagai penyebab kehancuran dan tranformasi imperium bani Abbasiyah. Bahkan kehancuran bani Abbasiyah terjadi disaat berlangsungnya konsolidasi. Disamping itu kemunduran dinasti Abbasiyah disebabkan hidup mewah para khalifah Abbasiyah dan keluarganya serta para pejabat pemerintahan karena harta kekayaan yang melimpah dari hasil wilayah yang luas, ditambah lagi dengan industri olahan yang melimpah dan tanah yang subur.    

    

II.            RUMUSAN MASALAH

A.     Kondisi khalifah-khalifah dan imperium daulat bani abbas

B.     Perkembangan islam daulat bani abbasiyah paska masa keemasan

C.     Kegemilangan Iptek di Masa Khilafah Abasiyyah

 

 

 

 

III.            PEMBAHASAN

 

A.     Kondisi Khalifah-Khalifah dan Imperium Daulat Bani Abbas

Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas as-Saffah, nama lengkapnya yaitu Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Khalifah dinasti abbasiyah antara lain sebagai:[1]

1.      Abul Abbas As-Saffh (133-137 H / 750-754 M)

2.      Abul Ja’far Al-Manshur (137-1159 H / 754-774 M)

3.      Al-Mahdi (159-169 H / 775-785 M)

4.      Musa Al-Hadi (169-170 H / 785-786 M)

5.      Harun Ar-Rasyid (170-194 H / 785-786 M)

6.      Al-Amin (194-198 H / 809-813 M)

7.      Al-Ma’mun (198-218 H / 813-833 M)

8.      Al-Mu’tasim (218-223 H/ 833-843 M)

9.      Al-Watiq (223-228 H / 842-847 M)

10.  Al-Mutawakil (841-861 M)

11.  khalifah bani abbas akhir (861-1262 M), terjadi dari 27 khalifah, antara lain:


1.      Muntasi       : hanya 6 bln                         

2.      Nusta’in     

3.      Mutazz        : hanya 3bln

4.      Al-Muhtadi

5.      Mutammid

6.      Mutazid

7.      Muktafi       : 5 th

8.      Muktadir     : 25 th

9.      Abu Mansur

10.  Ar-Razi

11.  Nuttaki

12.  Mustafi

13.  Al-Muti

14.  At-Taii

15.  Al-Kadir

16.  Abu Ja’far   : 24 th

17.  Abu Kasim

18.  Abdul Ahmad Abbas

19.  Abu Manshur

20.  Rasyid

21.  Abu Abdullah

22.  Abdul Muzaffar Yusuf

23.  Abu Muhammad Hasan

24.  Nasir   : memerintah 41 th

25.  Zahir    : 1 th

26.  Abu Ja’far Mansyur

27.  Abu Ahmad Abdullah


 

Dalam kepemimpinan khalifah Abbassiyah yang akhir, dinasti mengalami kemunduran, mayoritas khalifah Abbasiyah akhir adalah orang yang lemah, suka senang-senang dan hanya menjadi boneka Turki, meskipun demikian ada sebagian khalifah Abbasiyah akhir yang bertanggung jawab atas kepimpinannya dan berusaha untuk memajukan Abbasiyah. Namun dia tak mampu berkuasa dengan penuh karena banyak kerajaan yang merdeka serta para gubernur dan pejabat melepaskan diri dari pemerintahan. Yang tersisa hanyalah mentri yang ambisius dan korup.

Selama dinasti abbasiyah berkuasa. Pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik., sosial, dan budaya. Berdasar perubahan pola pemerintahan dan politik tersebut, maka masa pemerintahan bani Abbasiyah dibagi menjadi lima periode.[2]

1.      Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M) periode pengaruh Persia pertama.

2.      Periode kedua (232 H/847 M – 234 H/945 M) masa pengaruh Turki pertama.

3.      Periode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M) masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan daulat (masa pengaruh Persia kedua).

4.      Periode keempat (447 H/1055 M/ – 590 H/1194 M) masa kekuasaan dinasti Saljuk dalam pemerintahan (masa pengaruh Turki kedua).

5.      Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.

Dari kelima periode masa pemerintahan ini, hanya dalam periode pertama daulat Abbasiyah mencapai masa keemasan (secara politis, para kholifah betul-betul tokoh yang kuat, merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus dan kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tinggi) dan periode selanjutnya adalah periode kelemahan dan kemunduran daulat Abbasiyah. Imperium Abbasiyah mulai mundur pada masa pemerintahan khalifah al-Mutawakil. Pada masa ini aliran Mu’tazilah mulai tidak memainkan pemerintahan.

Kahancuran dinasti Abbasiyah tidaklah terjadi dengan begitu saja tapi melalui proses yang lama, diawali dengan munculnya berbagai gerakan dan penberontakan. Diantara hal-hal yang menyebabkan kemunduran kerajaan Abbasiyah, antara lain:

a)      Melebihkan bangsa asing dari pada bangsa arab.

Sebagai akibat dari kebijakan ini banyak orang Arab melakukan pemberontakan. Disamping itu, wibawa para khalifah telah memudar sejak masa Al-Watshiq dan Al-Mutawakkil. Sampai halifah terakhir. Tidak seorangpun yang mampu menjalankan roda pemerintahan baik setelah itu. Kehadiran mereka hanya seperti bayangan dan boneka saja. Para wazir dengan leluasa mengangkat dan menjatuhkan khalifah.[3]

b)      Ketergantungan pada tentara bayaran

Hal ini berakibat buruk bagi daulah Abbasiyah. Karena tentara baru mau menjalankan tugasnya jika mendapatkan bayaran yang besar. Apabila khalifah tidak berani membayar mahal tentara, kedudukannya akan terancam. Terutama dari para gubernur yang membangkang dan mau membayar tinggi tentara. Akhirnya banyak para gubernur yang memiliki tentara bayaran kuat, pada akhirnya menyatakanlepas dari pemerintahan Bagdad, sehingga muncul kerajaan-kerajaan kecil.

c)      Fanatisme kebangsaan (persaingan antar bangsa)

Khalifah Abbasiyah didirikan bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persi. Persekutuan terjadi karena dilatar belakangi persamaan nasib kedua golongan itu pada masa bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khalifah Abbasiyah berdiri, dinasti Abbasiyah tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut styzewaka ada dua sebab dinasti abbas memilih orang-orang persia dari pada orang-orang arab. Pertama, sulit bagi orang-orang arab untuk melupakan bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupkan warga kelas satu. Kedua. Orang-orang arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, khalifah Abbasiyah tidak ditegakkan diatas ’Ashabiyah traditional. Padahal Islam telah memerangi fanatisme dan menyerukan seluruh umat supaya bersatu. Rasulullah saw sendiri telah menegaskan: ”Bukanlah dari umat kami orang yag menganjur-anjurkan fanatisme kesukuan atau yang yang berperang untuk membela fanatisme kesukuan”.kendati demikian orang arab masih mau kembali juga kepada fanatisne kekabilahan sebagai mana dahulu pada zaman jahiliyah. Orang arab menganggap bahwa darah yang mengalir ditubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.[4]

Selain itu kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda. Seperti Maroko, Mesir, Syiria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam. Pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya disamping fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan Syu’ubiyah.

Para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru, budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Oleh bani Abbas mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. Mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. Mereka memiliki kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuaaan khafilah.

Kecendrungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah Al-Mutawakkil. Seorang khalifah yang lemah naik tahta, dominasi bangsa turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada ditangan orang-orang Turki. Kemudian posisi ini direbut oleh bani Buwaih. bangsa Persi. Pada periode ketiga. Dan selanjutnya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keenpat.[5]          

d)      Kemerosotan ekonomi

Khalifah Abbasiyah mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dibidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan bani Abbas mengalami kejayaan dana yang masuk lebih besar dari pada yang keluar, sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta, pertambahan dana yang besar diperolah antara lain al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.

Setelah  periode pertama khalifah mengalami periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan para pejabat melakukan korupsi.

Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit[6]. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.      

e)      Timbulnya kerajaan-kerajaan yang bebas dari kekuasaan bani Abbas

Kelemahan kedudukan khalifah dinasti Abbasiyah di Bagdad, yang disebabkan oleh luasnya wilayah kekuasaan yang kurang terkendali, ketergantungan kepada tentara bayaran. Kesulitan ekonomi dan persoalan politik lainnya, menimbulkan disintegrasi wilayah yang sikuasai oleh masing-masing penguasa setempat. Para penguasa ini ketika terjadi ketegangan di dalam kekuasaan istana Bagdad, mencoba memisahkan diri dari pemerintahan Abbasiyah di Bagdad.

Adapun diantara kerajaan-kerajaan Islam yang memisahkan diri dari kekuasaan Abbasiyah adalah[7]:

a.       Dinasti Umayyah di Andalusia

b.      Dinasti Idrisiyah di Maroko

c.       Dinasti Aghlabiyyah (184-296 H / 800-909M)

d.      Dinasti Thukuniyyah (254-292 H / 868-905 M)

e.       Dinasti Ikhsyidi (323-358 H / 935- 969 M)

f.        Dinasti Hamdaniyah (293-394 H / 905-1004 M)

g.       Dinasti Thahiriyah (205-259 H/ 821-873 M)

 

f)        Kuatnya pengaruh faham sufi dan taklid

Ilmu tasawuf adalah ilmu hakekat yang pada intinya mengajarkan penyerahan diri kepada tuhan, meninggalkan kesenangan dunia dan hidup menyendiri untuk beribadah kepada Allah. Ilmu ini banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Islam setelah serangan bangsa Mongol dan hancurnya pusat peradaban islam  Bagdad. Praktek mistik ajaran agama lain. Sehingga disana ditemukan adanya penyimpangan ajaran. Begitupun soal taqlid, karena masyarakat Islam tidak mau berijtihad lagi, akhirnya terikat dengan ajaran para tokoh sebelumnya dan bertaqlid buta[8]

Bersamaan dengan lahirnya ilmu tasawuf pada zaman daulah bani Abbasiyah, muncul pula ahli-ahli dan ulama-ulamanya, di antara mereka itu adalah[9]:

1.      Al Qusyairi yaitu abu kasim Abdul Karim bin Hawazin al Qusyairi, wafat tahun 465 H. Kitab tasawuf yang terkenal ”Ar Risalatul Qusyairi”.

2.      Syahabuddin, yaitu Abu Hafas Umar bin Muhammad Syahabuddin Sahrawardy, wafat di Bagdad tahun 632 H. Kitab tasawufnya ”Awaritul Ma’arif”.

3.      Imam Ghazali, yaitu Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghazali lahir di Thus dalam abad ke V H. Meninggal pada tahun 502 H. Dalam Fiqh menganut mazhab Syafi’i, beliau membawa aliran baru dalam dunia tasawuf dengan kitabnya Ihya Ulumuddin.[10]  

g)      Faktor ekstern

Faktor eksternal disebabkan oleh adanya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang dan penyerbuan bangsa mongol. Adapun puncak keruntuhan bani abbas adalah penyerbuan bangsa mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan, yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu, yaitu perpustakaan di Baghdad.

B.      Perkembangan Islam Daulat bani Abbasiyah Paska Masa Keemasan

Paska masa keemasan daulah bani Abbasiyah, perkembangan islam mengalami kemunduran khususnya dibidang politik dan ekonomi. Dan juga dibidang ukhuwah islamiyah Islam juga mengalami kemunduran karena pada masa keemasan. Aliran-aliran dalam Islam semakin beragam. Kemunduran ini bukanlah suatu kemerosotan yang sangat jauh dibidang tentara, kesehatan, ilmu pengetahuan. Karena kerajaan-kerajaan yang memisahkan diri dari daulat Abbasiyah berusaha untuk memperkokoh daulat masing-masing dengan cara menerapkan kebijakan daulat yang bisa memajukan daulat mereka antara lain:

1.      Dinasti Abbasiyah membangun armada yang tangguh, dan membangun dua masjid besar yaitu masjid Zaitunah di Tunisia dan masjid Kairwan.

2.      Dinasti Thuluniayah menjadikan Mesir sebagai pusat kebudayaan Islam, mendirikan rumah sakit besar di Fustat, dan mendirikan masjid Ibn Thulun.

3.      Dinasti Hamdaniyyah mengalami kemajuan dibidang sastra dan mampu mempertahankan kekuasaan Islam dari serangan orang-orang Romawi. 

 

C.     Kegemilangan Iptek di Masa Khilafah Abasiyyah

 Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517    M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517).[11] Dengan rentang waktu yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.

Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.

Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.

Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.

Kekhilafahan Abbasiyah dengan kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah Islam. Tapi jangan khawatir, someday Islam akan kembali jaya dan tugas kita semua untuk mewujudkannya.

Dinasti Abbasiyiah membawa Islam ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.

Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786.

Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api. Ini membuktikan bahwa Islam mampu mengadopsi teknologi dari luar. Pada abad ke-14, tentara Salib akhirnya terusir dari Timur Tengah dan membangkitkan kebanggaan bagi masyarakat Arab.

Lain lagi pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah di Barat disebut Ottoman yang kekuatan militernya berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan Spanyol dan Perancis. Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah.

 

IV.            KESIMPULAN

Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah adalah daulat (negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani Abbas), paman Nabi Muhammad SAW.

Kahancuran dinasti Abbasiyah tidaklah terjadi dengan begitu saja tapi melalui proses yang lama,

Diantara hal-hal yang menyebabkan kemunduran kerajaan Abbasiyah, antara lain:

*      Melebihkan bangsa asing dari pada bangsa arab.

*      Ketergantungan pada tentara bayaran

*      Fanatisme kebangsaan (persaingan antar bangsa)

*      Kemerosotan ekonomi

*      Timbulnya kerajaan-kerajaan yang bebas dari kekuasaan bani Abbas

*      Kuatnya pengaruh faham sufi dan taklid

*      Faktor ekstern

 

V.            PENUTUP

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. serta salawat serta salam  kita haturkan pada junjungan nabi besar Muhammad SAW, dengan kesabaran dan kasih sayangnya terhadap kita sebagai umatnya membimbing kita dari zaman kegelapan pada zaman yang penuh berkah dan kebahagiaan  seperti sekarang ini. Demikian makalah yang dapat kami sampaikan semoga apa yang terdapat dalam pembahasan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua pada umumnya, dan khususnya bagi para pembaca. Apabila dalam makalah ini terdapat kesalahan baik dalam penulisan maupun pemaparannya, kami selaku pemakalah mohan maaf. Dan tidak lupa kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun, sehingga dapat dijadikan bahan perbaikan makalah yang akan datang.

 

 



[1] Lihat Syech Muhammad, Islam Konsepsi Dan Sejarahnya.

[2] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2001), hlm. 49 

[3] Muradi. MA. Sejarah Kebudayaan Islam,(semarang: toha putra, 1997), hlm. 87 

[4] Ahmad Amin, Aslam Dari Masa Ke Masa,(bandung: CV. Rosda. 1987), hlm. 129

[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 80

[6] Ibid, hlm. 82

[7] Muradi, MA., Sejarah Kebudayaan Islam,( Semarang: Toha Putra. 1997), hlm 87

[8] Ibid, hlm. 96

[9] A. Hasjmy., Sejarah Kebudayaan Islam,( Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 232

[10] Ibid, hlm. 233

[11]Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Abbasiyah,(Jakarta: Bulan Bintang, tth),cet I, hlm. 23 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: